Di lambung Sriwijaya Air, penerbangan Solo-Jakarta-Bengkulu-Medan.
"Mau ke mana, Pak?" sapaku basa-basi kepada seorang bapak yang duduk di samping saya. Setiap kali saya naik transportasi umum, saya berusaha menyapa lebih dulu orang yang duduk di samping saya. Kebiasaan ini saya lakukan semenjak saya mendengar nasihat, "Jangan berharap orang lain berbuat baik kepada Anda, sebelum Anda mendahuluinya."
"Bengkulu," jawabnya singkat.
"Wah, sama! Saya mau ke Mukomuko. Ada tugas dari kantor," kata saya seramah mungkin.
"Wah, jauh tuh dari Bengkulu. Sekitar 8 jam perjalanan."
"Wauw... sejauh itukah?" Obrolan pun berlanjut hingga saya tahu kalau bapak itu bernama Pak Darmin. Tinggal di Seluma dan seorang pengurus Himpaudi di daerahnya.
<< Sriwijaya Air yang menerbangkan saya dari Solo hingga Bengkulu.
Malam itu, Big Match antara Barca melawan Chelsea
akan digelar. Apa boleh buat, demi sebuah tugas, saya harus merelakan diri untuk
melewatkan big match yang
ditunggu-tunggu jutaan penonton di seluruh dunia itu. Sebuah pengorbanan yang
luar biasa besar sebenarnya, namun pengorbanan itu tertutup oleh bayangan tugas
yang mengasyikkan yang sebentar lagi akan saya alami.
Malam mulai merangkak. Jam menunjukkan pukul 00.00 tepat. Kota
Bengkulu sudah terlelap tak berdaya ketika Kijang Innova yang membawa kami mengiris
malam. Kendaraan yang kami sewa Rp450.000,00 per hari itu menderu memecah
khusyuknya malam. Tujuan kami adalah Mukomuko, kabupaten paling utara di Provinsi
Bengkulu.
Sebagai daerah yang berada di dataran rendah, Kota Bengkulu terkenal sebagai daerah panasnya minta ampun. Kalau siang hari dan kebetulan langit cerah, Matahari bisa membakar Bengkulu hidup-hidup. Namun, malam itu udara begitu kontras dengan tadi siang, terasa begitu dingin sekali malam ini. Jangan tanya berapa suhunya karena saya (dan dua teman saya) tidak dilengkapi dengan alat pengukur suhu. Yang pasti, tubuh kami dibuat menggigil dan gigi gemeretakan.
Mobil kami terus melaju menembus dinginnya malam. Tanpa terasa, tapal batas Kota Bengkulu sudah kami lalui. Kami mulai memasuki kawasan hemat listrik. Keadaan bukan lagi sekadar sepi. Boleh dibilang, malam itu merupakan malam tersenyap yang pernah saya alami. Kanan kiri kami terbentang luas pemandangan serba hitam. Hanya sesekali saja berjumpa dengan rumah penduduk yang dengan murah hati menyediakan penerangan meskipun tidak lebih dari lampu 5 watt.
“Ini rute teraman dari semua rute yang menuju Mukomuko,” kata Pak Sopir. “Rute yang lain penuh bahaya, terutama banyaknya perampok yang sering menghadang perjalanan,” lanjutnya.
Sebagai daerah yang berada di dataran rendah, Kota Bengkulu terkenal sebagai daerah panasnya minta ampun. Kalau siang hari dan kebetulan langit cerah, Matahari bisa membakar Bengkulu hidup-hidup. Namun, malam itu udara begitu kontras dengan tadi siang, terasa begitu dingin sekali malam ini. Jangan tanya berapa suhunya karena saya (dan dua teman saya) tidak dilengkapi dengan alat pengukur suhu. Yang pasti, tubuh kami dibuat menggigil dan gigi gemeretakan.
Mobil kami terus melaju menembus dinginnya malam. Tanpa terasa, tapal batas Kota Bengkulu sudah kami lalui. Kami mulai memasuki kawasan hemat listrik. Keadaan bukan lagi sekadar sepi. Boleh dibilang, malam itu merupakan malam tersenyap yang pernah saya alami. Kanan kiri kami terbentang luas pemandangan serba hitam. Hanya sesekali saja berjumpa dengan rumah penduduk yang dengan murah hati menyediakan penerangan meskipun tidak lebih dari lampu 5 watt.
“Ini rute teraman dari semua rute yang menuju Mukomuko,” kata Pak Sopir. “Rute yang lain penuh bahaya, terutama banyaknya perampok yang sering menghadang perjalanan,” lanjutnya.
Lalu ia mulai bercerita tentang hal-hal menyeramkan tentang kisah
perjalanannya. Boleh jadi apa yang diceritakan Pak Sopir memang benar,
setidaknya begitu yang sering saya dengar tentang jalan lintas Sumatra.
Waktu terus merambat. Jam menunjukkan pukul 02.30 ketika salah seorang rekan mengusulkan mencari warung makan untuk sekadar minum kopi. Memangnya ada warung makan di tempat seperti ini? Begitu tanya dalam hati saya.
Waktu terus merambat. Jam menunjukkan pukul 02.30 ketika salah seorang rekan mengusulkan mencari warung makan untuk sekadar minum kopi. Memangnya ada warung makan di tempat seperti ini? Begitu tanya dalam hati saya.
“Setelah melewati tempat ini ada warung,” kata Pak Sopir
seakan tahu isi hati saya.
Memang benar, tidak lama kemudian kami menjumpai kawasan
yang agak terang. Di kanan kiri ada satu dua warung dan sebuah bengkel, tetapi….
sudah tutup.
Hampir saja kami putus asa ketika Pak Sopir berkata, “Kayaknya di depan ada warung yang buka!”
Hampir saja kami putus asa ketika Pak Sopir berkata, “Kayaknya di depan ada warung yang buka!”
Alhamdulillah, kali ini Pak Sopir benar! Begitu sampai di
depan warung, kami segera memarkir mobil lalu turun menuju warung itu. Alamak,
penjaga warung itu seorang ibu yang sedang lelap sendirian meninggalkan sepanci
air sedang mendidih di atas tungku yang masih menyala.
“Bu, bangun, Bu! Kompornya belum dimatikan!”
Kebetulan sekali, kompor itu menjadi pembenaran bagi kami
untuk membangunkan ibu itu…haha. Kan bahaya kalau kompornya meledak!
Agak malas, ibu itu beranjak dari tempat tidur, mematikan
kompor.
“Bu, minta kopi tiga, teh satu.”
Ibu itu pun mulai
meracik tiga gelas kopi dan satu gelas teh pesanan kami. Aroma kopi Bengkulu mulai
menyebar ketika ibu itu menyeduhnya. Aroma yang begitu menggoda malam itu. Tak
lama kemudian, terdengarlah suara srupat sruput ketika kopi dan teh panas
memasuki mulut-mulut kami. Rasa hangat segera menjalari tubuh kami. Kepulan asap
rokok pun membubung di udara (kami harus menahan rokok waktu di dalam mobil).
Wuaahh…. Haha.
Dengan wajah kuyu, kami ngopi-ngopi di warung dalam perjalanan Bengkulu-Mukomuko >>>
Namun, kami tidak bisa berlama-lama di warung itu. Target jam tujuh sampai di tempat tujuan harus terwujud. Kami pun harus melanjutkan perjalanan yang masih panjang.
Waktu terus merangkak. Jam 04.00, tanda-tanda kehidupan mulai tampak. Jentera kegiatan ekonomi sudah berderak. Diwakili oleh deru truk-truk pengangkut kelapa sawit dan batubara (baru saya tahu kalau di Bengkulu ada usaha pertambangan batubara), pagi itu mulai rancak (rancak di sini maksudnya jika dibandingkan malam tadi).
Pukul 05.00. Lebih dari separuh perjalanan sudah kami lalui. Perjalanan sisanya tidak seseram tadi, tapi kami harus segera mencari masjid untuk salat subuh. Masjid pertama yang kami singgahi, terkunci rapat. Di tempat wudu, air tidak mengalir. Lho! Cari masjid lain saja. Masjid kedua pun seperti itu. Cari lagi. Masjid ketiga yang kami temukan, juga tidak ada air, tetapi pintunya terbuka. Kami pun mencari air di rumah penduduk untuk bersuci. Air yang agak keruh pagi itu terasa begitu segar menerpa wajah kami yang kuyu karena tidak bisa memejamkan mata di dalam kendaraan semalam.
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar