Total Tayangan Halaman

Senin, 24 Oktober 2011

Sekuel Kedua Perjalanan ke Mukomuko: Zona Pesisir yang Terlupa


Salat subuh usai sudah. Kami harus segera melanjutkan perjalanan. Kepala pening akibat perjalanan tadi malam -yang saya sembunyikan dari rekan-rekan perjalanan- berangsur-angsur mulai reda. Saya sudah siap! Let’s go!

Kali ini perjalanan mulai bisa dinikmati, setidaknya kanan kiri kami bukan lagi pemandangan serba hitam. Kebun-kebun sawit mulai terlihat. Di pinggir jalan, onggokan kelapa sawit telah menunggu untuk diangkut oleh para pengepul untuk selanjutnya dikirim ke pengolahan minyak sawit (nah baru tahu kan kalau di Bengkulu ada pabrik minyak sawit?).

<<Perkebunan kelapa sawit membentang di sepanjang jalan. Terus terang, pemandangan yang terlalu biasa bagi orang Bengkulu itu merupakan pemandangan baru yang luar biasa buat saya. Jadi jangan mengatakan saya ini katrok kalau mulai jepret sana jepret sini.

Sesekali kami melintasi jembatan di atas sungai yang bisa dibilang cukup lebar. Sungai-sungai lebar itu merupakan tengara bahwa kami tengah berada di zona pesisir. Semua sungai akan melebar ketika mendekati muara, begitu kata pakar geografi. Memang benar, tidak jauh di sebelah kiri kami, lautan tampak hijau (bukan biru) membentang menakjubkan. 

Sekali lagi saya disuguhi pemandangan yang luar biasa. Sudah bisa ditebak, saya jepret sana jepret sini (lagi). Kebetulan Pak Sopir cukup akomodatif (saya baru mencari istilah bahasa Indonesianya untuk kata ini). Ketika saya sedang beraksi dengan alat perekam gambar, beliau memperlambat laju kendaraan>>

Zona pesisir selalu menarik buat saya karena selalu menyuguhkan keunikan, baik bentang alamnya maupun bentang sosialnya. Kalau ada waktu, cermati pesisir Parangtritis dan Parangkusuma, lalu bandingkan. Meskipun letaknya berdekatan, tampak sekali perbedaan antara dua pesisir itu. Keduanya menyuguhkan keindahan dalam bentuk keunikan yang berbeda satu sama lain. Saya tidak hendak meromantis-romantiskan keadaan zona pesisir, namun kalau diperhatikan dengan saksama ada sesuatu yang benar-benar menarik, setidaknya itu menurut saya yang selama ini tinggal di pedalaman.
<<Ketika kendaraan melintasi jalan yang persis berbatasan dengan pantai, saya tidak bisa menahan diri lagi. Godaan atas nama rasa kagum begitu kuat memaksa saya turun dari mobil. Saya harus turun biar angle-nya (sudah seperti tukang foto profesional saja) kena. 


Pantai yang luar biasa. Karakteristik pantai di sini lain dengan pantai di Jawa. Kebanyakan pantai di Jawa tidak ada bebatuan besar seperti ini. Ini kesempatan langka bagi saya.  
Ya deh…ya deh! >>


Eh, ngomong-ngomong kita sudah sampai Mukomuko belum sih? Ini memang sudah masuk Kabupaten Mukomuko tetapi tujuan kita masih jauh. Setelah prosesi jeprat jepret selesai, kami pun melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan kami sempat terkejut melihat sebuah kendaraan dengan tulisan Bus Sekolah. Di tempat seperti ini ada bus sekolah? Setelah kami dekat dengan “bus” tersebut, baru kami tahu ternyata yang dimaksud “bus” itu sebuah truk yang baknya ditutup entah dengan seng atau apa sehingga menyerupai bus. Rupanya “bus” itu disediakan untuk anak-anak karyawan pabrik minyak kelapa sawit. Bagus juga tuh!.

Tidak lama lagi kami akan sampai ke tempat tujuan. Namun, tiba-tiba yang kami lalui berubah. Jalan yang tadinya beraspal, kini menjadi jalan berbatu dan berdebu. Debu yang tebal berhamburan ketika kendaraan kami melintasinya. Rupanya sedang ada perpindahan jalan. Lho kok aneh ada perpindahan jalan, pebaikan jalan kali? Memang benar, jalan yang lama sudah habis digerogoti ombak. “Jalan yang lama di sana tuh,” kata Pak Sopir menunjuk ke arah….. laut! Memang ombak di engkulu terkenal ganas. Abrasi telah memakan ruas-ruas jalan di Bengkulu. Nah, ini juga salah satu keunikan mintakat pesisir di suatu wilayah!

Akhirnya sampailah kami ke tempat yang kami tuju. Jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Ternyata terlambat setengah jam dari perkiraan. Tidak begitu buruk lah! Hal pertama yang ”diperintahkan” otak kami untuk segera dikerjakan begitu sampai di tempat itu adalah….makan! Segera kami mencari rumah makan. Tetapi apa lacur? Belum ada rumah makan yang siap. Apa boleh buat, kami masuki saja rumah makan yang belum siap itu, dengan sabar menunggu dan melakukan ”gencatan senjata” dengan perut yang sudah meronta. Baik juga untuk mendalami seni menahan diri. Haha.

Sembari menunggu, kami mengatur strategi (macam perang saja). Lho memang mau perang kan? Oke dech. Tapi tunggu, ada yang mendesak nich….. buru-buru saya lari ke kamar mandi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar